Nikel Menjadi Kunci Industri Bahan Baku Baterai Mobil Listrik

Indonesia sedang bersiap menjadi produsen baterai kendaraan listrik. Saat ini di Maluku Utara (Malut) sedang dibangun industri nikel untuk bahan baku baterai mobil listrik. Pabrik bahan baku baterai mobil listrik tersebut sedang dibangun oleh Harita Nickel di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan. Menurut rencana, industri masa depan ini akan berproduksi pada akhir 2020 ini dan sekarang sedang memasuki tahap konstruksi akhir. 

Maluku utara menjadi yang pertama di Indonesia nantinya, harapannya industri ini bisa berproduksi pada akhir 2020. Industri ini akan mengolah nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai mobil listrik, yakni nikel sulfat dan kobalt sulfat. Mobil listrik sendiri lebih ramah lingkungan dibandingkan transportasi dengan bahan bakar minyak (BBM).

Harita Nickel yang memiliki komitmen awal untuk mewujudkan ini. Salah satunya membangun pabrik pengolahan dan pemurnian nikel dengan proses hydrometallurgy yang ramah lingkungan atau green project karena pemakaian energi listriknya rendah. Hasilnya, bahan baku utama dari katoda baterai mobil listrik.

Teknologi pengolahan dan pemurnian mineral dengan proses hidrometalurgi akan sangat menguntungkan dalam konservasi sumber daya alam, khususnya nikel. Selama ini, smelter yang ada di Indonesia menyerap atau menggunakan nikel kadar tinggi atau kadar 1,7 ke atas. Sedangkan proses hidrometalurgi yang dikembangkan oleh Harita di Obi, menggunakan nikel kadar rendah atau di bawah 1,7. 

Technology High Pressure Acid Leach (HPAL) akan meningkatkan nilai tambah nikel. Nikel kadar rendah yang selama ini terbuang atau tidak terpakai, akan memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku dari pabrik pengolahan dan pemurnian baru ini. Apalagi, cadangan nikel kadar rendah sangat banyak di Indonesia termasuk di Malut.  

Harapannya, industri nikel ini dapat berproduksi sesuai rencana. Selain membantu ekonomi setempat, juga diharapkan ada transfer teknologi dan pengetahuan dari tenaga kerja asing asal China kepada pekerja lokal, khususnya yang berasal dari Maluku Utara. 

Sumber: Kumparan

Leave a Reply

Your email address will not be published.