Layanan Digital Terintegrasi Permudah Penetrasi Pasar

VIVA – Seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia, perilaku pembelian masyarakat terutama di kalangan generasi milenial ikut berubah. Studi lembaga riset McKinsey memperkirakan akan ada tambahan 50 juta pengguna internet baru di Indonesia selama periode 2015-2020.

Tingginya antusiasme masyarakat Indonesia dalam mengadopsi teknologi digital merupakan peluang bisnis yang menggiurkan.

Hal ini diperkuat dengan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, yang mana penetrasi pengguna internet mencapai 143,26 juta atau setara 54,68 persen dari total penduduk yang mencapai 262 juta jiwa, pada 2017.

Penetrasi ini mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang jumlahnya hanya 132,7 juta jiwa atau bertambah sekitar 7,96 persen.

Adapun wilayah pengguna internet terbesar masih di pulau Jawa sebesar 58,08 persen, Sumatera 19,09 persen, Kalimantan 7,96 persen, Sulawesi 6,73 persen, Bali-Nusa Tenggara 5,63 persen, dan Maluku-Papua 2,49 persen.

Dari segi usia, generasi milenial atau usia di bawah 35 tahun adalah paling aktif menggunakan internet. Pesatnya perkembangan teknologi berimbas ke seluruh industri, tak terkecuali asuransi. Salah satu keunggulan dari pemanfaatan teknologi adalah menciptakan efisiensi.

Selain bisa mendongkrak bisnis, layanan dan produk juga dapat tersalurkan dengan cepat namun sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Direktur Utama Asuransi BRI Life, Gatot Mardiwasisto Trisnadi, menegaskan bahwa tahun ini akan fokus meningkatkan pengembangan layanan digital terintegrasi atau integrated information technology.

Tujuannya untuk memperdalam penetrasi pasar dalam menjual produk-produk asuransi mikro melalui seluruh jaringan induk usaha, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

“Sejumlah produk sederhana yang sesuai dengan pasar digital juga sedang disiapkan. Begitu pula dengan perbaikan bisnis prosesnya,” ungkap dia, lewat keterangannya, Rabu, 13 Februari 2019.

Menurutnya, BRI Life yang akan datang adalah perusahaan asuransi jiwa yang berbasis teknologi di mana transformasi digital sudah dimulai sejak pertengahan 2018, yakni dengan diluncurkannya berbagai aplikasi, baik untuk internal maupun nasabah.

Dari sisi keamanan teknologi, BRI Life telah menetapkan profil risiko yang dikehendaki dan membuat rencana mitigasi untuk faktor risiko yang dianggap utama/major.

Ditegaskan adalah sebuah keharusan untuk perusahaannya memiliki ekosistem penanggulangan bencana / disaster recovery, dan melakukan tes dan simulasi secara berkala untuk manajemen dan proses kelanjutan bisnis / business continuity management.

Salah satu poin yang dilakukan yaitu menerapkan standar penggunaan firewall dan DMZ / demilitarized zone untuk sistem-sistem front-end untuk pelayanan nasabah yang terkoneksi ke internet, dan melakukan enkripsi untuk seluruh data-data yang dikategorikan pribadi dan rahasia.

Mengenai penetrasi produk, Gatot menuturkan telah menggandeng tiga mitra perusahaan rintisan atau startup berbasis e-commerce. Ketiganya adalah Go-Fit, Pasar Polis, Oy and Fast Pay, pada November tahun lalu.

Dengan pencapaian ini mendongkrak pertumbuhan bisnis BRI Life di sepanjang 2018. Pertumbuhan Gross Return Premium atau GRP berhasil mencapai Rp4,2 triliun atau tumbuh 12 persen dari tahun sebelumnya secara year on year (yoy).

Pertumbuhan ini juga menghasilkan kontribusi Fee Based Income lebih dari Rp300 miliar atau tumbuh 77 persen dari 2017, serta laba sekitar Rp600 miliar atau tumbuh 84 persen dari periode yang sama (yoy). “Dengan pertumbuhan positif ini, kami optimistis GRP bisa menembus angka Rp20 triliun pada tahun 2021,” jelas dia. (ann)

Sumber : Viva

Leave a Reply

Your email address will not be published.